Portal PPID
Badan Pusat Statistik

Setiap orang berhak memperoleh Informasi Publik sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2008. Website PPID BPS menyediakan Informasi Publik Berkala, Setiap Saat, Serta-merta, dan Informasi lainnya.
Informasi
Berkala
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala
Informasi
Serta-merta
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara serta merta tanpa penundaan
Informasi
Setiap Saat
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan setiap saat
Informasi
Dikecualikan
Pengecualian informasi harus didasarkan pada pengujian konsekuensi
Standar
Layanan
Standar yang berlaku pada Layanan PPID
Laporan
dan Regulasi
Kumpulan Laporan dan Regulasi yang tersedia


E-FORM

Pengajuan Informasi Publik
Kini Lebih Mudah

Ajukan permohononan Informasi Publik, atau keberatan Informasi Publik dengan mengisi E-Form secara online.

Ajukan
Permohonan Informasi →
Ajukan
Keberatan Informasi →

Berita Kegiatan BPS

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Terus Berlanjut

Dirilis pada 01 April 2026Siaran Pers

Jakarta, (1/4)- Neraca perdagangan Indonesia di awal tahun 2026 masih mencatat surplus di tengah ketidakpastian global. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis terbaru melaporkan surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga Februari 2026 mencapai US$2,23 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit. “Hingga bulan Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$2,23 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Februari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$5,42 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$3,19 miliar,” ungkap Ateng pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4). Menurutnya, nilai ekspor kumulatif periode Januari-Februari 2026 naik 2,19 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencatat nilai ekspor sebesar US$37,06 miliar atau naik 6,69 persen. Tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini sekitar 43,85 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Februari 2026. Tiongkok masih menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai US$10,46 miliar (24,69 persen), disusul Amerika Serikat sebesar US$5,00 miliar (11,81 persen), dan India sebesar US$3,11 miliar (7,35 persen). Ekspor nonmigas ke Tiongkok pada periode Januari-Februari 2026 didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, pakaian dan aksesorisnya (rajutan). Sementara itu, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga Februari 2026 mencapai US$42,09 miliar, atau naik 14,44 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor US$36,93 miliar, naik 17,49 persen. Sedangkan impor migas mengalami penurunan 3,50 persen menjadi US$5,16 miliar. Dari sisi penggunaan, peningkatan impor periode Januari-Februari 2026 secara kumulatif terjadi baik pada barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor barang modal mencapai US$9,10 miliar atau naik 34,44 persen. Sedangkan nilai impor bahan baku/penolong mencapai US$29,40 miliar atau naik 9,27 persen. Sepanjang periode Januari-Februari 2026, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$15,68 miliar (42,46 persen), diikuti Australia dengan nilai US$2,07 miliar (5,60 persen), dan Singapura sebesar US$2,00 miliar (5,41 persen). Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas hingga Februari 2026 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan/nabati (US$6,49 miliar), bahan bakar mineral (US$4,01 miliar), besi dan baja (US$2,70 miliar), nikel dan barang daripadanya (US$1,97 miliar), serta alas kaki (US$0,99 miliar). Inflasi Maret 2026 BPS mencatat pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,41 persen (m-to-m) atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,50 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026. Angka inflasi bulanan ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1,65 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender tercatat sebesar 0,94 persen. “Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,07 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,32 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok ini adalah ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng serta daging sapi,” jelas Ateng. Selain itu, terdapat komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada Maret 2026, di antaranya tarif angkutan udara dan emas perhiasan, masing-masing sebesar 0,03 persen. Berdasarkan komponen, inflasi pada Maret 2026 utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak dengan andil inflasi sebesar 0,27 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit dan daging sapi. Selanjutnya, komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah minyak goreng dan nasi dengan lauk. Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen ini adalah bensin, tarif angkutan antarkota, dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 34 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 4 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sebesar 2,57 persen. Adapun deflasi terdalam terjadi di Maluku sebesar 0,75 persen. BPS secara khusus melaporkan inflasi kelompok transportasi pada momen lebaran. Berdasarkan historis lima tahun terakhir, selalu terjadi inflasi di setiap momen Ramadan dan Lebaran, kecuali pada tahun 2025. “Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah bensin dan tarif angkutan antarkota dengan andil inflasi terhadap umum masing-masing 0,04 persen dan 0,03 persen,” jelas Ateng. Ia melanjutkan bahwa tarif angkutan udara menjadi peredam inflasi pada kelompok ini dengan andil deflasi terhadap umum sebesar 0,03 persen. Secara tahunan (y-on-y), inflasi tercatat sebesar 3,48 persen, atau lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Maret 2025 sebesar 1,03 persen. Kondisi ini salah satunya disebabkan oleh masih adanya sedikit pengaruh low-base effect. Pada Januari-Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik, sehingga level harga pada periode tersebut berada di bawah tren normal dan menekan IHK. Meskipun tarif listrik prabayar kembali normal pada Maret 2025, diskon untuk pascabayar masih berlanjut, sehingga pada Maret 2026 inflasi terlihat lebih tinggi meskipun dinamika harga secara umum tetap sejalan dengan tren fundamental. Masih adanya sedikit pengaruh low-base effect ini terlihat dari angka inflasi tahunan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga pada Maret 2026 yang mencapai 7,24 persen, dengan andil inflasi sebesar 1,08 persen. Lebih lanjut, BPS melaporkan bahwa kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 3,34 persen atau memberikan andil inflasi sebesar 0,99 persen. Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,03 persen atau memberikan andil deflasi hampir nol persen. Menurut wilayah, secara tahunan seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Aceh, yaitu sebesar 5,31 persen, dan inflasi terendah terjadi di Lampung, yaitu sebesar 1,16 persen. Nilai Tukar Petani turun Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Maret 2026 mencapai 125,35 atau turun 0,08 persen dibanding Februari 2026. Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,33 persen, lebih rendah dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang naik 0,41 persen. Selain itu, BPS juga mencatat terjadinya kenaikan rata-rata harga beras baik di tingkat penggilingan, grosir maupun eceran, masing-masing 0,54 persen, 0,96 persen dan 0,65 persen (m-to-m). Produksi Padi Februari Melonjak, Jagung Tertahan Realisasi luas panen padi pada bulan Februari 2026 diperkirakan mencapai 0,94 juta hektare atau naik 23,62 persen dibanding Februari 2025 (0,76 juta hektare). Kenaikan luas panen ini diikuti pula oleh peningkatan produksi padi. Pada Februari 2026, produksi padi mencapai 5,05 juta ton GKG, atau naik 27,41 persen dibandingkan Februari 2025.   BPS juga melaporkan potensi luas panen padi pada Maret-Mei 2026 diperkirakan mencapai 3,85 juta hektare atau mengalami penurunan seluas 0,46 juta hektare, atau sekitar 10,60 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selanjutnya, diperkirakan potensi produksi padi pada Maret-Mei 2026 mencapai 20,68 juta ton GKG, atau turun 11,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun produksi beras pada Maret-Mei 2026 diperkirakan sebesar 11,91 juta ton beras, atau turun 11,11 persen. Selanjutnya, realisasi luas panen jagung pada bulan Februari 2026 mencapai 0,31 juta hektare atau turun 7,02 persen dibandingkan Februari 2025. Sementara itu, produksi jagung pada Februari 2026  tercatat sebesar 1,77 juta ton jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen) atau turun 4,91 persen dibandingkan Februari 2025. Kunjungan Wisatawan Mancanegara Tumbuh 13,37 persen, Wisatawan Nusantara Relatif Stabil di Februari 2026 Angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Februari 2026 mencapai 1,16 juta kunjungan, atau naik 13,37 persen dibandingkan Februari 2025. Secara kumulatif, pada periode Januari-Februari 2026 jumlah kunjungan wisman mencapai 2,35 juta kunjungan, lebih tinggi 7,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut kebangsaan, wisman berkebangsaan Malaysia paling banyak berkunjung ke Indonesia pada Februari 2026 sebesar 199,22 ribu kunjungan (17,18 persen), diikuti oleh Tiongkok 150,82 ribu kunjungan (13,01 persen), dan Singapura 109,33 ribu kunjungan (9,43 persen). “Pertumbuhan kunjungan wisatawan berkebangsaan Tiongkok pada Februari 2026 mencapai 68,89 persen secara tahunan,” ungkap Ateng. Ia melanjutkan, kunjungan wisatawan berkebangsaan Singapura tumbuh 21,81 persen, sedangkan kunjungan wisatawan berkebangsaan Malaysia turun hingga 7,17 persen. BPS turut mencatat pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) pada Februari 2026 yang mencapai 91,14 juta perjalanan. Angka ini lebih tinggi 0,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara kumulatif, jumlah perjalanan wisnus pada periode Januari-Februari 2026 mencapai 193,17 juta perjalanan, turun 0,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara historis, jumlah perjalanan wisnus pada bulan Februari selalu lebih rendah dibandingkan bulan Januari pada beberapa tahun terakhir. Pergerakan Masyarakat Menguat di Darat dan Laut, Transportasi Udara Alami Penurunan           Pada Februari 2026, satu bulan menjelang perayaan hari raya Idulfitri, jumlah penumpang angkutan kereta mencapai 43,27 juta orang, atau naik 2,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan keberangkatan penumpang juga terjadi pada moda angkutan laut domestik yang tercatat sebesar 2,03 juta orang atau naik 0,15 persen, serta jumlah penumpang ASDP yang naik 1,49 persen menjadi 3,51 juta orang. Sementara itu, penumpang angkutan udara domestik tercatat sebesar 4,08 juta orang atau turun 7,23 persen dari Februari 2025. Penurunan keberangkatan penumpang ini juga terjadi pada angkutan udara internasional yang tercatat sebesar 1,51 juta orang atau turun 4,71 persen. BPS juga melaporkan pada Februari 2026 jumlah barang yang diangkut menggunakan moda angkutan laut domestik mencapai 38,77 juta ton, atau turun 1,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah barang yang diangkut kereta tercatat sebesar 4,39 juta ton atau turun 19,74 persen. Adapun jumlah barang yang diangkut angkutan udara domestik tercatat sebesar 50,0 ribu ton atau turun 4,62 persen dibandingkan Februari 2025.  Narahubung MediaFavten Ari PujiastutiKepala Biro Humas dan HukumBadan Pusat Statistik romum@bps.go.id

Pejabat Pengelola
Informasi dan Dokumentasi

Badan Pusat Statistik

Gedung 2 Lantai 1
(Kepala Biro Umum dan Humas Badan Pusat Statistik)
Jln. Dr. Sutomo 6-8, Jakarta Pusat 10710
F. (021) 3857046
e-mail: ppid@bps.go.id

Ikuti Kami
di Media Sosial