Portal PPID
Badan Pusat Statistik
Setiap orang berhak memperoleh Informasi Publik sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2008. Website PPID BPS menyediakan Informasi Publik Berkala, Setiap Saat, Serta-merta, dan Informasi lainnya.
Informasi
Berkala
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala
Informasi
Setiap Saat
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan setiap saat
Informasi
Serta-merta
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara serta merta tanpa penundaan
Informasi
Barang Jasa
Informasi Publik terkait pengadaan barang dan jasa
Informasi
Dikecualikan
Pengecualian informasi harus didasarkan pada pengujian konsekuensi
Standar
Layanan
Standar yang berlaku pada Layanan PPID
—
E-FORM
Pengajuan Informasi Publik
Kini Lebih Mudah
Ajukan permohononan Informasi Publik, atau keberatan Informasi Publik dengan mengisi E-Form secara online.
AjukanPermohonan Informasi → Ajukan
Keberatan Informasi →

Berita Kegiatan BPS
BPS Catat Inflasi Tahunan Oktober 2026 Mencapai 3,23 Persen
Dirilis pada 03 November 2026 • Siaran Pers
SIARAN PERS BADAN PUSAT STATISTIK43/02500/HM.240/2026BPS Catat Inflasi Tahunan Oktober 2026 Mencapai 3,23 PersenJakarta, (2/11) -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan (m-to-m) pada Oktober 2026, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Sementara itu, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,23 persen (y-on-y) dan inflasi tahun kalender sebesar 2,40 persen (y-to-d).Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan Oktober 2026 dengan andil inflasi 0,15 persen dan tingkat inflasi sebesar 0,51 persen.“Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen, cabai rawit dengan andil inflasi 0,05 persen, tomat dengan andil inflasi 0,04 persen, serta sawi hijau, labu siam/jipang, dan sawi putih yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen,” jelas Ateng pada konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11).Berdasarkan komponen, komponen bergejolak mengalami inflasi 0,77 persen dengan andil inflasi 0,13 persen, dan komponen inti mengalami inflasi 0,12 persen dengan andil inflasi 0,07 persen. Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,09 persen dengan andil sebesar 0,02 persen.Menurut wilayah, dari 38 provinsi, 33 provinsi mengalami inflasi dan 5 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Selatan sebesar 1,12 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi di Gorontalo sebesar 0,67 persen.Secara tahunan, inflasi Oktober 2026 mencapai 3,23 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi Oktober 2025 sebesar 2,86 persen. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi 1,40 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 0,59 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,32 persen.Berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi. Komponen inti memiliki andil inflasi terbesar, yaitu 1,64 persen, diikuti komponen bergejolak sebesar 0,96 persen dan komponen harga yang diatur pemerintah sebesar 0,63 persen. Inflasi pada komponen inti terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop/notebook, serta pelumas/oli mesin.Seluruh provinsi juga tercatat mengalami inflasi secara tahunan. Inflasi tertinggi tercatat di Sulawesi Utara sebesar 8,07 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di DKI Jakarta sebesar 2,52 persen.Nilai Tukar Petani Terus MeningkatNilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Oktober 2026 mencapai 132,60 atau naik 1,13 persen dibanding September 2026. Hal ini disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) yang sebesar 1,55 persen yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang sebesar 0,41 persen.BPS turut mencatat kenaikan rata-rata harga beras di setiap tingkatan. Pada Oktober 2026, rata-rata harga beras pada tingkat penggilingan naik 0,26 persen; pada tingkat grosir naik 0,01 persen; sementara tingkat eceran naik 0,08 persen secara bulanan (m-to-m).Neraca Perdagangan Hingga September Masih SurplusBPS mencatat neraca perdagangan kumulatif periode Januari-September 2026 masih mengalami surplus US$10,61 miliar didukung oleh surplus pada September 2026 sebesar US$3,36 miliar.“Surplus sepanjang periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus US$34,21 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$23,60 miliar,” jelas Ateng.Nilai ekspor kumulatif Januari–September 2026 mencapai US$221,23 miliar, naik 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 6,30 persen menjadi US$212,27 miliar.Berdasarkan sektor, industri pengolahan mencatat nilai ekspor terbesar, dengan nilai mencapai US$182,83 miliar atau naik 8,93 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok sebesar US$54,17 miliar (25,52 persen), Amerika Serikat sebesar US$25,39 miliar (11,96 persen), dan India sebesar US$15,00 miliar (7,07 persen).Sementara itu, nilai impor kumulatif Januari–September 2026 mencapai US$210,63 miliar, naik 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut berasal dari impor nonmigas yang naik 16,92 persen menjadi US$178,06 miliar, serta impor migas yang naik 37,35 persen menjadi US$32,57 miliar.Menurut penggunaan, impor Indonesia didominasi oleh impor bahan baku/penolong dengan nilai US$150,57 miliar atau naik 21,11 persen. Selanjutnya, impor barang modal mencapai US$41,55 miliar, naik 16,49 persen, sedangkan impor barang konsumsi tercatat sebesar US$18,51 miliar, naik 15,54 persen.Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–September 2026, dengan nilai US$76,16 miliar (42,77 persen). Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang sebesar US$10,04 miliar (5,64 persen) dan Australia sebesar US$8,07 miliar (4,53 persen).Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas pada periode Januari–September 2026 terutama berasal dari beberapa komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$29,31 miliar, bahan bakar mineral US$21,42 miliar, besi dan baja US$13,95 miliar, nikel dan barang daripadanya US$9,52 miliar, serta alas kaki US$4,86 miliar.Produksi Padi dan Jagung Turun pada September 2026Realisasi luas panen padi pada bulan September 2026 seluas 0,91 juta hektare, atau turun 19,40 persen dibanding September 2025 yang mencapai 1,13 juta hektare. Seiring penurunan luas panen tersebut, produksi padi diperkirakan turun 18,29 persen, dari 5,97 juta ton GKG pada September 2025 menjadi 4,88 juta ton GKG pada September 2026. Begitu pula jumlah produksi beras yang diperkirakan mencapai 2,81 juta ton, atau turun 18,25 persen dibanding September tahun lalu.Secara kumulatif, realisasi luas panen padi selama Januari-September 2026 mencapai 9,24 juta hektare atau turun 2,23 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. BPS juga memperkirakan potensi luas panen padi untuk tiga bulan berikutnya (Oktober-Desember) akan turun 17,75 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi 1,54 juta hektare. Sejalan dengan hal tersebut, potensi produksi padi tiga bulan ke depan diperkirakan turun 16,30 persen menjadi 8,69 juta ton GKG, sementara produksi beras diperkirakan turun 16,32 persen menjadi 5,01 juta ton.BPS menjelaskan, perkiraan penurunan produksi pada periode tersebut dipengaruhi oleh dampak El Nino yang tahun ini lebih kuat dibandingkan pada 2023. Dampaknya diperkirakan semakin terasa pada tiga bulan ke depan. Namun demikian, produksi padi pada periode Januari–Agustus 2026 masih mencatat adanya peningkatan.BPS juga melaporkan realisasi luas panen jagung pada bulan September 2026 turun 3,59 persen menjadi 0,21 juta hektare. Seiring penurunan tersebut, produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen) diperkirakan sebesar 1,30 juta ton atau turun 6,46 persen dibanding September tahun lalu. Namun demikian, produksi JPK KA 14 persen sepanjang Januari-September 2026 secara kumulatif mencapai 13,16 juta ton, lebih tinggi 2,73 persen dibanding Januari-September 2025.Kunjungan Wisatawan Hingga September 2026 MeningkatSepanjang bulan September 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 1,43 juta kunjungan, atau naik 2,31 persen dibanding September 2025. Dengan demikian, jumlah kunjungan wisman kumulatif selama Januari-September 2026 mencapai 12,01 juta kunjungan, atau naik 5,01 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Masih sama seperti bulan sebelumnya, mayoritas kunjungan pada September 2026 disumbang oleh pemegang paspor Malaysia (16,76 persen), diikuti oleh Australia (12,43 persen) dan Tiongkok (10,76 persen). BPS juga secara khusus melaporkan rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan pada triwulan III 2026 sebesar US$1.374,48, dengan rata-rata lama tinggal 11,01 malam.BPS turut mencatat pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) pada September 2026 yang mencapai 96,69 juta perjalanan. Angka tersebut naik 2,47 persen secara tahunan. Secara kumulatif, jumlah perjalanan wisnus selama Januari-September 2026 menyentuh 938,84 juta perjalanan, atau naik 4,10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.Jumlah Penumpang Beberapa Moda Transportasi MeningkatPada September 2026, jumlah keberangkatan penumpang pada moda angkutan kereta tercatat naik 7,83 persen dibanding September tahun lalu. Moda transportasi ini memberangkatkan hingga 48,55 juta penumpang. Kenaikan jumlah penumpang juga terjadi pada angkutan penyeberangan (ASDP) sebesar 7,54 persen menjadi 4,23 juta penumpang, serta angkutan laut domestik yang naik sebesar 2,61 persen menjadi 2,45 juta penumpang. Namun demikian, BPS melaporkan penurunan keberangkatan penumpang pada angkutan udara domestik sebesar 12,39 persen menjadi 4,22 juta penumpang, serta angkutan udara internasional yang turun sebesar 2,92 persen menjadi 1,74 juta penumpang.Adapun perkembangan angkutan barang tercatat naik 10,81 persen pada moda angkutan laut domestik, yang mengangkut hingga 48,19 juta ton barang selama September 2026. Sementara itu, jumlah barang yang diangkut melalui angkutan kereta tercatat turun 4,61 persen menjadi 5,97 juta ton, dan untuk angkutan udara domestik turun 7,78 persen menjadi 47 ribu ton.Narahubung MediaFavten Ari PujiastutiKepala Biro Umum dan Hubungan MasyarakatBadan Pusat Statistik romum@bps.go.id