Portal PPID
Badan Pusat Statistik

Setiap orang berhak memperoleh Informasi Publik sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2008. Website PPID BPS menyediakan Informasi Publik Berkala, Setiap Saat, Serta-merta, dan Informasi lainnya.
Informasi
Berkala
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala
Informasi
Serta-merta
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara serta merta tanpa penundaan
Informasi
Setiap Saat
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan setiap saat
Informasi
Dikecualikan
Pengecualian informasi harus didasarkan pada pengujian konsekuensi
Standar
Layanan
Standar yang berlaku pada Layanan PPID
Laporan
dan Regulasi
Kumpulan Laporan dan Regulasi yang tersedia


E-FORM

Pengajuan Informasi Publik
Kini Lebih Mudah

Ajukan permohononan Informasi Publik, atau keberatan Informasi Publik dengan mengisi E-Form secara online.

Ajukan
Permohonan Informasi →
Ajukan
Keberatan Informasi →

Berita Kegiatan BPS

Siaran Pers 1 Desember 2025

Dirilis pada 01 Desember 2025Siaran Pers

Terjadi deflasi di Riau pada bulan November 2025Pekanbaru, (1/12)- BPS Provinsi Riau mencatat pada bulan November 2025 Provinsi Riau mengalami deflasi bulanan (m-to-m) sebesar 0,22 persen atau terjadi penurunan indeks harga konsumen (IHK) dari 109,02 pada Juli 2025 menjadi 111,86 pada November 2025. Secara tahunan, pada November 2025 terjadi inflasi y-on-y sebesar 4,27 persen, dan secara tahun kalender terjadi inflasi y-to-d sebesar 3,63 persen.Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan (m-to-m) terbesar adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 1,00 persen, dengan andil deflasi sebesar 0,33persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga pada November 2025 mengalami deflasi sebesar 0,35 persen dan memberikan andil deflasi 0,01 persen.Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi m-to-m adalah cabai merah, jengkol, kangkung, kol putih/kubis, udang basah, ikan asin teri, petai, dan kentang. Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m pada November 2025, antara lain: daging ayam ras, emas perhiasan, ikan serai, jeruk, ikan kembung, bawang merah, telur ayam ras, dan sate.Sedangkan kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang inflasi tahunan (y-on-y) terbesar adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,41 persen, dengan andil inflasi sebesar 2,36 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 13,45 persen dengan andil inflasi sebesar 0,98persen dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,57 persen dengan andil inflasi sebesar 0,35 persen.Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y adalah emas perhiasan, cabai merah, ikan serai, telur ayam ras, beras, bayam, kangkung, dan daging ayam ras. Sedangkan komoditas utama yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, adalah: ikan nila, jengkol, tomat, bawang putih, tempe, petai, masker, jeruk nipis/limau, dan pengharum cucian/ pelembut.Menurut wilayah, secara bulanan tercatat seluruh kabupaten/kota IHK di Provinsi Riau mengalami deflasi. Tingkat deflasi m-to-m terdalam terjadi di Kota Dumai sebesar 0,45 persen dan terendah terjadi di Kota Pekanbaru sebesar 0,11 persen. Sedangkan secara tahunan tercatat seluruh kabupaten/kota IHK di Provinsi Riau mengalami inflasi secara y-on-y tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 5,57 persen dan terendah terjadi di Kabupaten Kampar sebesar 3,90 persen.Kinerja Positif Neraca Perdagangan Riau Nilai ekspor Riau Oktober 2025 mencapai US$1,77 miliar, turun 7,79 persen dibanding Oktober 2024. Nilai ekspor Riau Januari–Oktober 2025 naik 18,98 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan nilai ekspor ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar US$16,35 miliar, atau naik 24,20 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.Kinerja positif sejumlah kelompok komoditas di Riau masih berlanjut sepanjang Januari–Oktober 2025. Ekspor lemak dan minyak hewan/nabati capai US$9,61 miliar, naik 37,21 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan ekspor berbagai produk kimia naik 41,97 persen menjadi US$2,00 miliar. Namun, tak semua kelompok komoditas mencatat kinerja positif. Ekspor ampas dan sisa industri makanan turun 61,97 persen menjadi US$184,34 juta. Total ketiganya memberikan share sekitar 70,88 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari–Oktober 2025.Tiga besar negara tujuan ekspor Riau adalah Tiongkok, India, dan Malaysia. Share ketiga negara ini sekitar 32,31 persen dari total ekspor nonmigas Riau pada Januari–Oktober 2025. Tiongkok tetap menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Riau dengan nilai mencapai US$2,69 miliar (16,18 persen), disusul India sebesar US$1,50 miliar (8,99 persen) dan Malaysia sebesar US$1,19 miliar (7,13 persen). Ekspor ke Tiongkok didominasi oleh bubuk kertas (pulp), minyak goreng kelapa sawit, dan kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian. Sementara ekspor ke India didominasi oleh minyak mentah kelapa sawit (CPO), minyak goreng kelapa sawit, dan kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian.Dari sisi impor, nilai impor Riau Oktober 2025 mencapai US$158,70 juta, naik 11,61 persen dibanding Oktober 2024. Nilai impor Riau pada Januari–Oktober 2025 mencapai US$1.396,91 juta atau turun 14,18 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini berasal dari sektor migas dengan nilai impor US$124,73 juta, turun 20,97 persen dan sektor nonmigas dengan nilai impor US$1.272,18 juta, turun 13,43 persen. Dilihat dari sisi penggunaan, penurunan impor terjadi pada ketiga golongan penggunaan barang, yaitu barang konsumsi, bahan baku atau penolong, serta barang modal dengan penurunan masing-masing sebesar 42,78 persen, 1,94 persen dan 59,38 persen.Sepanjang periode Januari–Oktober 2025, Tiongkok menjadi negara utama asal impor non migas Riau dengan nilai US$228,02 juta (17,92 persen), diikuti Kanada sebesar US$206,10 juta (16,20 persen), dan Vietnam sebesar US$118,06 juta (9,28 persen). Impor dari Tiongkok didominasi mesin pabrik kertas, kimia dasar anorganik khlor dan alkali, dan barang kimia lainnya.Kinerja positif neraca perdagangan Indonesia kembali berlanjut. Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat neraca perdagangan barang Riau mengalami surplus US$16,18 miliar sepanjang periode Januari–Oktober 2025, atau naik US$3,03 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Secara rinci, nilai ekspor Riau sepanjang Januari–Oktober 2025 tercatat US$17,58 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor yang mencapai US$1.396,91 juta. Surplus sepanjang Januari–Oktober 2025 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$15,37 miliar dan komoditas migas sebesar US$0,81 miliar.Surplus perdagangan nonmigas Riau sepanjang Januari–Oktober 2025 sebagian besar ditopang oleh lima kelompok komoditas, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati (US$9,60 miliar), berbagai produk kimia (US$1,97 miliar), kertas dan karton (US$1,72 miliar), bubur kayu (pulp) (US$1,44 miliar), serta bahan kimia organik (US$0,48 miliar).Dari sisi negara mitra, periode Januari–Oktober 2025, Riau mencatat surplus perdagangan nonmigas tertinggi dengan Tiongkok (US$2,46 miliar), India (US$1,46 miliar), dan Malaysia (US$1,09 miliar). Komoditas penyumbang surplus terbesar dengan Tiongkok adalah bubur kertas (pulp), minyak goreng kelapa sawit, dan kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian.Sebaliknya, masih pada periode Januari–September 2025, defisit terdalam perdagangan non migas Riau tercatat dengan Kanada (US$181,32 juta), Finlandia (US$89,95 juta), dan Swedia (US$22,86 juta). Defisit terbesar dengan Kanada disumbang oleh pupuk buatan tunggal hara makro primer, bubur kertas (pulp), dan mesin pabrik kertas.Nilai Tukar Petani Riau NaikBPS Provinsi Riau mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Riau pada November 2025 tercatat sebesar 190,42 atau turun 1,70 persen dibandingkan Oktober 2025 sebesar 193,71. Penurunan NTP ini disebabkan oleh Indeks Harga yang Diterima petani (It) turun sebesar 1,77 persen dan Indeks Harga yang Dibayar petani (Ib)turun sebesar 0,07 persen. Kenaikan Indeks Harga yang Dibayar (Ib) didukung oleh Indeks Harga Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mengalami penurunan sebesar 0,14 persen, sementara indeks harga yang dibayar untuk keperluan biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,07 persen. Sejalan dengan kenaikan NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Riau mengalami penurunan sebesar 1,83 persen, yaitu dari 189,94 pada Oktober 2025 menjadi 186,46 pada November 2025.Penurunan NTP di Provinsi Riau pada bulan November 2025 terjadi pada 4 dari 5 subsektor penyusun NTP, yaitu pada subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang mengalami penurunan sebesar 1,85 persen, diikuti oleh subsektor Hortikultura yang turun sebesar 0,43 persen, subsektor Perikanan turun sebesar 0,33 persen dan subsektor Peternakan yang mengalami penurunan sebesar 0,26 persen. Disisi lain, subsektor Tanaman Pangan mengalami kenaikan sebesar 0,57 persen.Pada November 2025, Riau tercatat sebagai provinsi dengan penurunan NTP ke-1 terdalam jika dibandingkan provinsi lain yang ada di Pulau Sumatra, yaitu diatas Bengkulu. Sementara itu, 5 provinsi lain mengalami kenaikan NTP, dimana kenaikan tertinggi dialami oleh provinsi Lampung yaitu sebesar 1,25 persen.  Kunjungan wisatawan mancanegara meningkatAngka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Riau pada Oktober 2025 tercatat mencapai 25.608 kunjungan. Sebanyak 5.908 kunjungan wisman masuk melalui empat pintu masuk utama imigrasi yaitu Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pelabuhan Dumai, pelabuhan Bengkalis, dan Pelabuhan Meranti. Sementara itu, kunjungan wisman yang tercatat melalui Mobile Positioning Data (MPD) di Kabupaten Bengkalis sebanyak 19.700 kunjungan. Jumlah wisman ini naik sebesar 5,80 persen dibanding bulan September 2025. Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Oktober 2025, total kunjungan wisman mencapai 224.876 kunjungan. Kunjungan wisman pada Oktober 2025 paling banyak dilakukan oleh wisatawan berkebangsaan Malaysia (46,13 persen), Tiongkok (8,17 persen), dan Hongkong (5,36 persen).Tingkat Penghunian Kamar Hotel Bintang meningkatBPS Provinsi Riau mencatat, pada Oktober 2025 Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang sebesar 48,15 persen atau naik sebesar 2,71 poin dibandingkan TPK bulan sebelumnya yang mencapai 45,44. Demikian juga dengan TPK hotel non bintang mengalami kenaikan 0,47 poin dari 25,62 persen pada bulan September 2025 menjadi 26,09 pada bulan Oktober 2025. Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) pada hotel berbintang pada bulan Oktober 2025 selama 1,30 malam.Narahubung MediaIrfarialBPS Provinsi Riaubps1400@bps.go.id

Pejabat Pengelola
Informasi dan Dokumentasi

BPS Provinsi Riau

BPS Provinsi Riau Lantai 1
(Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Riau)
Jln. Pattimura No. 12, Pekanbaru 28131
T. (0761) 23042
F. (0761) 21336
e-mail: bps1400@bps.go.id

Ikuti Kami
di Media Sosial