Portal PPID
Badan Pusat Statistik
Provinsi Sulawesi Selatan
Setiap orang berhak memperoleh Informasi Publik sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2008. Website PPID BPS menyediakan Informasi Publik Berkala, Setiap Saat, Serta-merta, dan Informasi lainnya.
Informasi
Berkala
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala
Informasi
Serta-merta
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara serta merta tanpa penundaan
Informasi
Setiap Saat
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan setiap saat
Informasi
Dikecualikan
Pengecualian informasi harus didasarkan pada pengujian konsekuensi
Standar
Layanan
Standar yang berlaku pada Layanan PPID
Laporan
dan Regulasi
Kumpulan Laporan dan Regulasi yang tersedia
—
E-FORM
Pengajuan Informasi Publik
Kini Lebih Mudah
Ajukan permohononan Informasi Publik, atau keberatan Informasi Publik dengan mengisi E-Form secara online.
AjukanPermohonan Informasi → Ajukan
Keberatan Informasi →

Berita Kegiatan BPS
BPS Sulsel Selenggarakan Rilis BRS 2 Maret 2026
Dirilis pada 02 Maret 2026 • Statistik Lain
Makassar, 2 Maret 2026 — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan merilis perkembangan sejumlah indikator strategis daerah yang mencakup inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), pariwisata, transportasi, serta ekspor dan impor. Data terbaru menunjukkan perkembangan yang beragam pada awal 2026. Aktivitas pariwisata menunjukkan penguatan secara tahunan, sementara NTP dan nilai ekspor mengalami penurunan. Di sektor transportasi, pergerakan penumpang dan barang menunjukkan tren yang bervariasi.NTP Sulawesi Selatan Menurun pada Februari 2026Nilai Tukar Petani Gabungan Provinsi Sulawesi Selatan pada Februari 2026 tercatat sebesar 116,86, turun 1,07 persen dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 118,12. Penurunan tersebut terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani turun 0,54 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani meningkat 0,54 persen.Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian atau NTUP pada Februari 2026 juga mengalami penurunan sebesar 0,61 persen, menjadi 122,83. Pada periode yang sama, wilayah perdesaan di Sulawesi Selatan mengalami inflasi sebesar 0,79 persen.Perkembangan ini menunjukkan adanya tekanan terhadap daya tukar hasil produksi pertanian, seiring turunnya harga yang diterima petani dan meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan untuk konsumsi rumah tangga maupun kegiatan produksi.Kunjungan Wisatawan Mancanegara Tumbuh Secara TahunanPada Januari 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Selatan tercatat sebanyak 1.515 kunjungan. Jumlah tersebut meningkat 25,94 persen dibandingkan Januari 2025, meskipun turun 34,73 persen dibandingkan Desember 2025.Kunjungan wisatawan mancanegara didominasi oleh wisatawan asal Malaysia sebanyak 908 kunjungan, disusul wisatawan asal Tiongkok sebanyak 145 kunjungan.Jumlah perjalanan wisatawan nusantara dengan tujuan Sulawesi Selatan mencapai sekitar 4,10 juta perjalanan, meningkat 0,68 persen secara bulanan dan 2,81 persen secara tahunan. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara yang berasal dari Sulawesi Selatan mencapai sekitar 3,94 juta perjalanan, turun 2,17 persen dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi meningkat 0,72 persen dibandingkan Januari 2025.Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan tetap menjadi salah satu tujuan perjalanan domestik yang menarik pada awal 2026.Tingkat Hunian Hotel Bintang Mengalami PenurunanTingkat Penghunian Kamar hotel bintang di Sulawesi Selatan pada Januari 2026 tercatat sebesar 44,76 persen. Angka tersebut turun 8,57 poin dibandingkan Desember 2025 dan menurun 1,17 poin dibandingkan Januari 2025.Sementara itu, Tingkat Penghunian Kamar hotel nonbintang dan akomodasi lainnya tercatat sebesar 19,15 persen. Tingkat hunian ini turun 0,62 poin secara bulanan, tetapi meningkat 0,78 poin secara tahunan.Rata-rata lama menginap tamu pada hotel bintang tercatat sebesar 1,47 malam, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.Penumpang Udara Domestik Menurun, Penerbangan Internasional MeningkatJumlah penumpang angkutan udara domestik di Sulawesi Selatan pada Januari 2026 tercatat sebanyak 790,61 ribu orang. Jumlah tersebut turun 8,94 persen dibandingkan Desember 2025, tetapi meningkat 3,29 persen dibandingkan Januari 2025.Sebaliknya, jumlah penumpang angkutan udara internasional mencapai 32,39 ribu orang, meningkat 4,80 persen secara bulanan dan 0,60 persen secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa konektivitas internasional masih mengalami pertumbuhan meskipun mobilitas penerbangan domestik menurun setelah periode akhir tahun.Pada transportasi laut, jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri tercatat sebanyak 237,58 ribu orang, turun 8,27 persen dibandingkan Desember 2025 dan turun tipis 0,29 persen dibandingkan Januari 2025.Di sisi lain, volume barang angkutan laut dalam negeri mencapai 1.604,92 ribu ton, meningkat 0,56 persen secara bulanan dan tumbuh 25,00 persen dibandingkan Januari 2025. Peningkatan tersebut mengindikasikan menguatnya aktivitas distribusi barang melalui jalur laut.Ekspor Menurun, Impor MeningkatNilai ekspor Sulawesi Selatan pada Januari 2026 tercatat sebesar US$67,74 juta, turun 45,43 persen dibandingkan Januari 2025 yang mencapai US$124,14 juta.Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$35,29 juta, diikuti Jepang sebesar US$20,40 juta, Vietnam sebesar US$3,98 juta, dan Amerika Serikat sebesar US$2,84 juta.Sementara itu, nilai impor Sulawesi Selatan pada Januari 2026 mencapai US$72,11 juta, meningkat 45,15 persen dibandingkan Januari 2025 yang sebesar US$49,68 juta.Impor terbesar berasal dari Australia senilai US$17,57 juta, Brasil sebesar US$16,28 juta, Tiongkok sebesar US$15,96 juta, dan Singapura sebesar US$12,86 juta.Dengan nilai impor yang lebih besar daripada ekspor, neraca perdagangan Sulawesi Selatan pada Januari 2026 mengalami defisit sebesar US$4,37 juta. Kondisi tersebut berbeda dengan Januari 2025 yang masih mencatat surplus sebesar US$74,46 juta.Secara keseluruhan, perkembangan indikator pada awal 2026 memperlihatkan dinamika ekonomi yang beragam. Pertumbuhan kunjungan wisatawan dan aktivitas angkutan barang menjadi sinyal positif, tetapi penurunan NTP dan ekspor perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan kesejahteraan petani serta kinerja perdagangan luar negeri.