Portal PPID
Badan Pusat Statistik Kota Sorong
Setiap orang berhak memperoleh Informasi Publik sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2008. Website PPID BPS menyediakan Informasi Publik Berkala, Setiap Saat, Serta-merta, dan Informasi lainnya.
Informasi
Berkala
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala
Informasi
Serta-merta
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara serta merta tanpa penundaan
Informasi
Setiap Saat
Informasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan setiap saat
Informasi
Dikecualikan
Pengecualian informasi harus didasarkan pada pengujian konsekuensi
Standar
Layanan
Standar yang berlaku pada Layanan PPID
Laporan
dan Regulasi
Kumpulan Laporan dan Regulasi yang tersedia
—
E-FORM
Pengajuan Informasi Publik
Kini Lebih Mudah
Ajukan permohononan Informasi Publik, atau keberatan Informasi Publik dengan mengisi E-Form secara online.
AjukanPermohonan Informasi → Ajukan
Keberatan Informasi →

Berita Kegiatan BPS
KOTA SORONG ALAMI INFLASI 2,06 PERSEN PADA JUNI 2026 DIPICU KENAIKAN HARGA TRANSPORTASI DAN BAHAN PANGAN
Dirilis pada 01 Juli 2026 • Siaran Pers
Sorong, (01/07) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sorong merilis Berita Resmi Statistik (BRS) mengenai perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi Kota Sorong bulan Juni 2026 serta Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bulan Mei 2026.Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPS Kota Sorong yang juga menjabat sebagai Kepala Subbagian Umum, Tri Rotua Maulina Siagian, mengatakan bahwa berdasarkan hasil Survei Harga Konsumen (SHK) yang dilaksanakan BPS Kota Sorong pada Juni 2026, Kota Sorong mengalami inflasi secara bulanan sebesar 2,06 persen. "Pada Juni 2026, Kota Sorong mengalami inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 2,06 persen, inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 6,12 persen, serta inflasi year-to-date (y-to-d) atau tahun kalender sebesar 3,64 persen," ujar Tri Rotua Maulina Siagian saat menyampaikan Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Kota Sorong, Rabu (1/7/2026).Ia menjelaskan bahwa apabila dibandingkan dengan Juni 2025 yang mengalami inflasi sebesar 0,56 persen, kondisi Juni 2026 menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi. Selama satu tahun terakhir, Kota Sorong telah mengalami sembilan kali inflasi dan empat kali deflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi pada Juni 2026 sebesar 2,06 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi pada Februari 2026 sebesar minus 0,81 persen. Menurut Tri, berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok transportasi mengalami inflasi tertinggi sebesar 4,34 persen dengan andil 0,45 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 3,65 persen dengan andil terbesar, yaitu 1,41 persen terhadap inflasi umum. "Besarnya andil kelompok makanan, minuman, dan tembakau menunjukkan bahwa kenaikan harga berbagai komoditas pangan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi di Kota Sorong," katanya.Tri menjelaskan, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi secara bulanan adalah angkutan udara sebesar 0,33 persen, diikuti ikan kembung/ikan gembung/ikan banyak/ikan gembolo/ikan aso-aso sebesar 0,30 persen, cabai rawit sebesar 0,25 persen, bawang merah sebesar 0,16 persen, dan bensin sebesar 0,10 persen. Sementara itu, komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi antara lain telur ayam ras sebesar 0,03 persen, jeruk nipis/limau sebesar 0,02 persen, daging ayam ras sebesar 0,02 persen, semangka sebesar 0,01 persen, dan anggur sebesar 0,01 persen."Tekanan inflasi pada sektor transportasi udara didorong oleh tingginya harga minyak mentah dunia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta meningkatnya jumlah penumpang pada masa liburan," jelasnya. Secara tahunan, lanjut Tri, Kota Sorong mengalami inflasi 6,12 persen, meningkat dibandingkan inflasi tahunan Mei 2026 yang sebesar 4,56 persen, maupun Juni 2025 yang sebesar 0,18 persen."Peningkatan inflasi tahunan ini terutama dipengaruhi oleh lonjakan harga tiket pesawat yang masih menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar," ujarnya. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan tertinggi terjadi pada kelompok transportasi sebesar 12,06 persen dengan andil 1,20 persen. Sementara itu, kelompok yang mengalami deflasi terdalam adalah kelompok pakaian dan alas kaki sebesar minus 5,25 persen dengan andil minus 0,19 persen.Meski demikian, penyumbang terbesar inflasi secara tahunan tetap berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil mencapai 3,25 persen.Adapun komoditas penyumbang inflasi terbesar secara tahunan meliputi angkutan udara sebesar 0,87 persen, ikan kembung dan sejenisnya sebesar 0,64 persen, ikan tuna sebesar 0,53 persen, bahan bakar rumah tangga sebesar 0,41 persen, serta kontrak rumah sebesar 0,26 persen.Sedangkan komoditas yang menahan inflasi atau menjadi penyumbang deflasi secara tahunan adalah baju muslim pria sebesar 0,06 persen, pisang sebesar 0,05 persen, kelapa sebesar 0,03 persen, gaun atau terusan wanita sebesar 0,03 persen, dan baju kaos tanpa kerah (T-shirt) anak sebesar 0,03 persen.Dalam ringkasan inflasi Juni 2026, Tri menegaskan bahwa penyumbang utama inflasi secara bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,41 persen. Komoditas utama yang mendorong inflasi pada kelompok tersebut meliputi angkutan udara, ikan kembung dan sejenisnya, cabai rawit, bawang merah, bensin, ikan laying atau ikan benggol, ikan cakalang atau ikan sisik, ikan selar atau ikan tude, kangkung, serta nasi dengan lauk.Sementara itu, penyumbang utama inflasi secara tahunan terdiri atas kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 3,25 persen, kelompok transportasi sebesar 1,20 persen, dan kelompok perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga sebesar 0,86 persen. Selain perkembangan inflasi, BPS Kota Sorong juga merilis perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bulan Mei 2026 berdasarkan hasil Survei Perkembangan Hotel terhadap 34 hotel di Kota Sorong.Untuk hotel berbintang, TPK Mei 2026 tercatat sebesar 45,58 persen, turun 7,55 poin dibandingkan April 2026 yang sebesar 53,13 persen. "Rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang secara keseluruhan pada Mei 2026 mencapai 1,76 hari, turun 0,08 poin dibandingkan April 2026. Rata-rata lama menginap tamu asing menjadi 1,46 hari, sedangkan tamu domestik 1,79 hari, yang keduanya juga mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya," terang Tri.Pada hotel nonbintang, Tingkat Penghunian Kamar tercatat sebesar 25,05 persen, turun 1,10 poin dibandingkan April 2026. Rata-rata lama menginap tamu secara keseluruhan mencapai 1,02 hari, turun 0,02 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing tetap 1,00 hari, sedangkan tamu domestik turun menjadi 1,02 hari. Secara keseluruhan, Tingkat Penghunian Kamar hotel di Kota Sorong pada Mei 2026 mencapai 38,73 persen, turun 5,48 poin dibandingkan April 2026 yang sebesar 44,21 persen.Rata-rata lama menginap tamu hotel secara keseluruhan tercatat 1,56 hari, turun 0,09 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata lama menginap tamu asing menjadi 1,45 hari, sedangkan tamu domestik 1,57 hari, yang juga mengalami penurunan dibandingkan April 2026. Menutup penyampaian Berita Resmi Statistik, Tri Rotua Maulina Siagian mengajak seluruh masyarakat dan pelaku usaha untuk mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang tengah dilaksanakan oleh BPS di seluruh Indonesia."Kami menginformasikan kepada seluruh Sahabat Data bahwa mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026, BPS di seluruh Indonesia melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 sebagai amanat undang-undang. Kami mengharapkan masyarakat menerima kedatangan petugas sensus yang dilengkapi atribut resmi dan surat tugas, serta memberikan data yang jujur dan benar. Data yang berkualitas akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan Kota Sorong yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan," pungkasnya.